KATA-KATAMU KUALITAS DIRIMU DAN BUDI PEKERTIMU GAMBARAN DIRIMU

Pernahkah kalian mendengar ungkapan “Mulutmu harimaumu,, kata-katamu kualitas dirimu, dan budi pekertimu gambaran dirimu?” Ungkapan dari Alviana Rahayu tersebut menunjukan kepada kita bahwa kualitas seseorang dapat dinilai dari cara berbicara dan baik buruk budi pekertinya. Perlu dipahami lebih dalam, manusia adalah makhluk sosial yang perlu berinteraksi dengan sesamanya. Penggunaan bahasa adalah alat komunikasi dalam interaksi sosial, oleh karenanya bahasa erat kaitanya dengan sosial budaya. Dalam kehidupan bersosialisasi, saat menjalin hubungan antar sesama manusia dan ketika berinteraksi, manusia memerlukan alat perantara untuk memperkuat jalinan sosialisasi, yaitu dengan media komunikasi guna menyampaikan pikiran, gagasan, maksud, perasaan, pesan maupun emosi secara langsung dari penutur kepada lawan tutur. Banyak sekali media komunikasi yang ada saat ini dari yang sederhana hingga yang canggih sekalipun. Namun, apabila dalam penggunaan media komunikasi tersebut tidak tepat sasaran, atau tidak sesuai dengan hakikat maupun aturannya dikarenakan problem bahasa sebagai alat komunikasinya, akan berakibat terhambatnya dan menimbulkan peluang kemudharatan berkomunikasi. Bukannya mendapat simpati atau empati namun akan mendapat caci maki. Oleh karena itu, sangat diperlukan pengetahuan pemahaman, serta pengalaman dalam komunikasi berbahasa. Secara sederhana komunikasi dapat diartikan sebagai suatu kegiatan pertukaran informasi antara penutur dan lawan tutur melalui tertulis maupun tidak tertulis (lisan). Memerhatikan hal tersebut, terlihat bahwa proses komunikasi setidak-tidaknya dibangun oleh tiga komponen, seperti halnya yang pertama adanya lawan tutur, kedua materi atau bahan yang diinformasikan, dan yang ketiga alat. Pada komponen yang pertama lawan tutur terlihat ada pihak pemberi informasi dan ada pihak penerima informasi. Komponen yang kedua materi atau bahan yang diinformasikan, tentunya banyak ide, gagasan atau pemikiran mengenai sesuatu hal. Sedangkan komponen ke tiga alat yaitu bahasa, suatu alat yang digunakan untuk berkomunikasi. Namun dapat kita lihat komponen ketiga yaitu bahasa yang sangat berpengaruh dalam etika kesopanan dalam berkomunikasi yang mampu membunuh budi pekerti masyarakat terutama remaja kita di Indonesia. Bagaimana tidak? Pada zaman milenial ini, remaja kita terutama kaum pelajar sudah bisa melontarkan kata-kata kasar dan makian yang tidak pantas didengar, berbicara tidak sopan dengan orang yang lebih tua. Tidak hanya katakatanya, perilakunya pun masih minim. Seperti halnya anak muda yang berani meledek orang yang lebih tua, murid yang melawan gurunya, anak yang membunuh orang tua, serta remaja yang berani melakukan tindak kriminal. Ada dua faktor yang mempengaruhi minimnya tindak tutur dan budi pekerti luhur diantaranya adalah faktor internal dan faktor eksternal. Dalam konteks internal, yang mempengaruhi tindak tutur dan budi pekerti luhur adalah kepribadian atau kemauan untuk belajar tindak tutur. Sedangkan faktor eksternal adalah bagaimana lingkungan keluarga seperti pola asuh misalnya ketika orang tua marah dengan kata-kata kasar sehingga si anak menerapkanya di lingkungan sekolah, lingkungan teman sebaya atau lingkungan sekitarnya. Pada pembahasan ini disampaikan untuk mengetahui seberapa pentingnya eksistensi remaja dalam mengembangkan literasi bahasa tindak tutur dan budi pekerti luhur. Seperti halnya peserta didik di SMK 1 Negeri Bukateja. Populasi murid-murid di SMK Negeri 1 Bukateja memiliki peserta didik yang berjumlah 1000 lebih. Dari jumlah populasi peserta didik tersebut yang begitu banyak. Tentunya banyak juga yang menunjukan perbedaan tindak tutur dan budi pekerti luhurnya. Dari pernyataan diatas perlunya motivasi tinggi untuk bertintak tutur dan berbudi perkerti baik tentunya. Motivasi itulah yang akan menggerakkan mereka untuk belajar. Orang tua salah satunya merupakan lingkungan pertama dalam membangun, membentuk dan menentukan karakter anak dalam berbahasa. Pembentukan karakter pertama dimulai dari bahasa ke satu yaitu bahasa orang tua atau bahasa ibu, ketika anak berkomunikasi spontan dengan orang lain bahasa yang digunakan mayoritas adalah bahasa khas dari orang tuanya. Seperti pepatah yang mengatakan “Buah jatuh tak jauh dari pohonnya” seperti itu pula bahasa anak yang tidak jauh dari orang tuanya. Namun, dari pepatah tersebut tidak sepenuhnya benar, karena anak memiliki bahasa kedua yaitu bahasa yang diperoleh dari lingkungan atau yang dapat dipelajari. Secara kuantitatif, jumlah remaja Indonesia hampir mencapai 40 persen dari total 200-an juta penduduk Indonesia atau sekitar 80 juta jiwa. Sedangkan secara kualitatif remaja pun memiliki peran yang cukup penting dalam memelopori literasi bahasa tindak tutur dan budi pekerti luhur. Apakah tindak tutur dan budi pekerti luhur berpengaruh pada kepribadian bangsa Indonesia? Indonesia terdiri dari beragam budaya dan suku bangsa. Di dalam keberagaman itu, terdapat salah satu cirinya yaitu bahasa. Bangsa yang baik adalah bangsa yang tindak tutur dan budi pekerti luhurnya baik pula. Mengapa demikian? Karena bahasa sebagai jiwa bangsa dan budaya budi pekerti luhur sebagai cerminan negara. Maka dari itu tindak tutur dan budi pekerti luhur sangat berpengaruh pada kepribadian bangsa Indonesia. Pada dasarnya bangsa Indonesia itu sendiri terkenal dengan keramah-tamahanya. Bayangkan saja jika di negara ini tidak ada ada pemahaman tentang literasi bahasa dalam tindak tutur dan budi pekerti luhur. Sudah dipastikan akan hancur secara perlahan dimana negara Indonesia akan kehilangan krisis identitas, penjajahan moral, perpecahan antar masyarakat dan masih banyak lagi. Tantangan yang harus dihadapi remaja saat ini adalah bagaimana mereka sebagai generasi bangsa membangun literasi bahasa dalam tindak tutur dan budi pekerti luhur pada era milenial ini yang notabenya dipengaruhi oleh arus globalisasi yang semakin berkembang pesat. Jadi para remaja masa kini harus pandai memilah mana yang perlu dicontoh dan mana yang perlu ditinggalkan. Menyadari begitu pentingnya kedudukan dan eksistensi remaja, Bung Karno pernah mengatakan “Berikan aku seribu orang tua niscaya aku cabut semeru dari akarnya, berikan aku sepuluh pemuda niscaya akan kugoncangkan dunia”. Mendengar hal tersebut, sudah sepatutnya kita sebagai remaja milenial bangkit membangun aksi nyata, bukan sekadar kata-kata semata. Upaya yang dapat kita lakukan untuk memerangi miskinya tidaktutur dan budi perkerti remaja saat ini dapat dilakukan dengan menggunakan metode :

  1. Metode Keteladanan Dalam metode ini, peran kita adalah menjadi figur yang baik untuk remaja-remaja yang lainya. Menjadi figur harus memiliki tindak tutur dan budi pekerti yang baik pula, jadi tidak hanya kata-kata semata, tetapi dapat mempertanggung jawabkan perkataanya. Bukankah satu teladan lebih baik dari seribu nasihat? Seperti halnya pengaplikasianya adalah dengan membiasakan mengucapkan ”maaf” apabila melakukan kesalahan dan “terima kasih” untuk menunjukkan rasa hormat, rasa syukur, terhadap pihak yang telah memberikan sesuatu kepada yang mengucapkan. Menerapkan program 5S yaitu salam, senyum, sapa, sopan, dan santun. Bisa membedakan bahasa yang digunakan ketika berbicara antara orang yang lebih tua dengan teman sejawatnya. Misalnya dalam suku Jawa, bahasa yang digunakan ketika berbicara dengan orang yang lebih tua menggunakan bahasa krama inggil. Sedangkan berbicara dengan teman sejawatnya menggunakan bahasa ngoko lugu. Tidak meniru kata-kata kasar yang dilontarkan orang lain. Karena remaja yang cerdas adalah remaja yang mampu memilah bahasa yang baik.

  2. Metode Diskusi Pada metode diskusi ini memiliki manfaat diantaranya adalah lebih menarik, karena kita bisa mengutarakan pendapat, menciptakan suasana yang lebih rileks informal namun tetap terarah yang terakhir untuk menggali pendapat dari anak yang pemalu, tidak banyak bicara atau bahkan sangat jarang bicara. Pengaplikasianya dapat menggunakan kata “interupsi” atau “sanggah” saat sidang organisasi untuk memotong atau menyanggah suatu argument pembicara. Jadi tidak asal memotong atau menyanggah saja apabila argumen itu tidak tepat, tetapi harus ada etikanya. Apabila terjadi kesalahpahaman antar peserta sidang, yang dapat dilakukan adalah pemimpin sidang inisiatif melakukan “pencerahan” yaitu meluruskan kesalahpahaman yang terjadi.

  3. Metode Percakapan Metode percakapan atau hiwar merupakan percakapan silih berganti yang terjadi diantara dua pihak atau lebih lewat tanya jawab menggunakan bahasa dan perilaku yang baik dengan memperhatikan norma kesopanan. Pada metode ini pengaplikasianya bisa dilakukan pada saat wawancara, berbincang-bincang dan lain sebagainya. Dalam percakapan tentunya ada etika tersendiri, seperti tidak menggunakan nada tinggi, menggunakan bahasa yang sopan, menatap lawan bicara dan lain sebaginya.

  4. Metode Pembiasaan Metode yang terakhir yaitu metode pembiasaan. Metode pembiasaan merupakan metode gabungan dari metode-metode yang di atas. Metode pembelajaran yaitu cara yang sengaja dilakukan secara berulang kali supaya bisa dijadikan kebiasaan. Metode pembiasaan ini memiliki inti pengalaman sebab yang dibiasakan tersebut adalah sesuatu yang sedang diamalkan. Sebagai contoh pengaplikasianya bisa diambil pada ke empat metode di atas. Remaja masa kini Bukan materi hendak dicari Tapi sopan santun sebagai jati diri Remaja pionir bangsa Bukan kaya akan harta Namun kaya akan budi bahasa Puisi tersebut menggambarkan pentingnya partisipasi remaja dalam pembentukan jati diri bangsa untuk bersaing dengan dunia global menyambut era industri yang akan datang. Mari bersama galakan literasi bahasa dalam tindak tutur dan budi pekerti luhur yang menjadi refleksi bangsa. Semoga pada pembahasan-pembahasan berikutnya dapat lebih baik lagi dan memperbanyak tindakan-tindakan aksi yang dilakukan untuk meningkatkan pemahaman tentang literasi bahasa dalam tindak tutur dan budi pekerti luhur.

Kalau bukan kita, siapa lagi! Kalau bukan sekarang, kapan lagi! SEIYA SEKATA BERSAMA KITA BISA!


Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *